Laman

Jumat, 28 September 2012

KONSEP KEPRIBADIAN


1.         Pengertian
Kepribadian (personality) merupakan salah satu kajian psikologi yang lahir berdasarkan pemikiran, kajian atau temuan-temuan (hasil praktik penanganan kasus) para ahli. Adapun kepribadian merupakan terjemahan dari bahasa Inggris personality. Kata personality sendiri berasal dari bahasa Latin persona yang berarti topeng yang digunakan oleh para aktor dalam suatu permainan atau pertunjukan. Di sini para aktor menyembunyikan kepribadiannya yang asli, dan menampilkan dirinya sesuai dengan topeng yang digunakan (Syamsu & Juntika, 2011).
Dalam kehidupan sehari-hari, kata kepribadian digunakan untuk menggambarkan identitas diri, jati diri seseorang, seperti “Saya seorang yang terbuka” atau “Saya seorang yang pendiam”, kesan umum sesorang tentang diri anda atau orang lain, seperti “Dia agresif” atau “Dia jujur” dan fungsi-fungsi kepribadian yang sehat atau bermasalah, seprti “Dia baik” atau “Dia pendendam” (Syamsu & Juntika, 2011).

2.         Macam-Macam Teori Kepribadian

  Teori kepribadian menurut Sigmund Freud

Frued membagi struktur ke dalam tiga komponen yaitu, id, ego, dan, superego. Perilaku seseorang merupakan hasil interaksi antara komponen tersebut. Id merupakan komponen kepribadian yang primitf, instinktif (yang berusaha untuk memenuhi kepuasan instink) dan rahim tempat ego dan superego berkembang. Id berorientasi pada prinsip kesenangan (pleasure principle) atau prinsip reduksi ketegangan. Prinsip kesenangan  merujuk kepada pencapaian kepuasan  yang segera dari dorongan-dorongan biologis tersebut. Ego merupakan eksekutif atau manejer dari kepribadian yang membuat keputusan (decision maker) tentang instink-instink mana yang akan dipuaskan dan bagaimana caranya atau sebagai sistem kepribadian yang terorganisasi, rasional, dan berorientasi pada  prinsip realitas (reality principle). Super ego merupakan komponen moral kepribadian yang terkait dengan standar atau norma masyarakat mengenai baik dan buruk, benar dan salah. Super ego berfungsi untuk (1) merintangi dorongan-dorongan id, terutama dorongan seksual dan agresif, karena dalam perwujudannya sangat dikutuk oleh masyarakat, (2) mendorong ego untuk menggantikan tujuan-tujuan realistik dengan tujuan-tujuan moralistik, dan (3) mengejar kesempurnaan (perfection)



;div style="text-align: justify;">
Tabel 1 Karakteristik Sistem Kepribadian Menurt Frued

ID
EGO
SUPER EGO
Sistem asli (the true psychic reality) bersifat subjektif (tidak mengenal dunia obyektif), yang terdiri dari instink-instink, dan gudangnya (reservoir) energi psikis yang digunakan oleh ketiga sistem kepribadian
Berkembang untuk memenuhi kebutuhan id yang terkait dengan dunia nyata. Memperoleh energi dari id. Mengetahui dunia subjektif dan objektif (dunia nyata)
Komponen moral kepribadian, terdiri dari dua subsistem : kata hati (yang menghukum tingkah laku yang salah dan ego ideal (yang mengganjar tingkah laku yang baik)
Sumber : Syamsu Yusuf Teori Kepribadian 2011

  1. Teori kepribadian menurut Carl Gustaf Jung
Menurut Jung, kepribadian itu adalah seluruh pemikiran perasaan, dan perilaku nyata baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Adapun struktur kepribadian manusia terdiri dari dua dimensi, yaitu dimensi kesadaran dan dimensi ketidaksadaran. Kedua dimensi ini saling mengisi dan mempunyai fungsi masing-masing dalam penyesuaian diri. Dimensi kesadaran berupaya menyesuaikan terhadap dunia luar individu. Adapun dimensi ketidaksadaran berupaya menyesuaikan terhadap dunia dalam individu.
1.    Dimensi Kesadaran Kepribadian (Syamsu Yusuf, 2011)
Dimensi kesadaran dalam kepribadian ini adalah ego. Ego adalah jiwa sadar yang terdiri dari persepsi, ingatan, pikiran, perasaan sadar manusia. Komponen kedua dari dimensi kesadaran manusia adalah sikap jiwa. Sikap jiwa adalah arah dari psikis atau libido yang menjelma dalam bentuk orientasi manusia terhadap dunianya. Setiap orang mengadakan orientasi terhadap dunia sekitarnya. Namun demikian, dalam caranya mengadakan orientasi itu setiap orang berbeda-beda. Apabila orientasi terhadap sesuatu itu tidak dikuasai oleh pendapat subjektifnya, maka individu yang demikian itu dikatakan mempunyai orientasi ekstravers. Apabila orientasi ekstravers ini menjadi kebiasaan, maka individu yang bersangkutan mempunyai tipe kepribadian ekstravers. Jadi berdasarkan atas sikap jiwanya, manusia dapat digolongkan menjadi dua tipe yaitu manusia yang bertipe ekstravers dan introvers.
Orang yang ekstrovers terutama dipengaruhi oleh dunia objektif, yaitu dunia diluar dirinya. Orientasinya terutama tertuju ke luar. Pikiran, perasaan, dan tindakannya terutama ditentukan oleh lingkungannnya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan non sosial. Orang bertipe ekstravers bersikap positif terhadap masyarakatnya, hatinya terbuka, mudah bergaul, berperilaku tanpa berpikir terlebih dahulu, biasanya suka menurutkan kata hatinya, selalu siap menjawab, tidak banyak pertimbangan (easy going), dan optimis dan hubungan dengan orang lain efektif. Adapun bahaya dari orang bertipe ekstravers ini ialah apabila keterkaiatan kepada dunia luar itu terlampau kuat, sehingga ia tenggelam didalam dunia objektif, kehilangan dirinya atau asing terhadap dunia subjektifnya sendiri. Orang y`ng bertipe introvers terutama dipengaruhi oleh dunia subjektif, yaitu dunia di dalam dirinya sendiri. Orientasinya terutama tertuju kedalam pikirannya. Pikiran, perasaan, serta tindakannya terutama ditentukan oleh faktor subjektif. Penyesuaian dengan dunia luar kurang baik, jiwanya tertutup, sukar bergaul, sukar berhubungan dengan orang lain, tidak sabar, Kompetitif, ambisius, ingin serba sempurna, mudah gelisah, tidak dapat tenang dan diam, mudah bermusuhan, mudah tersinggung, otot-otot mudah tegang dan kurang dapat menarik hati orang lain. Penyesuaian dengan batinnya sendiri baik. Bahaya tipe kepribadian introvers ini ialah kalau jarak dengan dunia objektifnya terlalu jauh, maka orang tersebut lepas dari dunia objektifnya. Jung berpendapat bahwa antara sikap jiwa ekstravers dan introvers itu terdapat hubungan yang kompensatoris.

Tabel 2. Tipologi Kepribadian Menurut Jung

Sikap Jiwa
Fungsi Jiwa
Tipe Kepribadian
Ketidaksadarannya
Ekstravers
Pikiran
Perasaan
Pendirian
Intuisi
Pemikir-ekstravers
Perasa-ekstravers
Pendirian-ekstravers
Intuitif-ekstravers
Perasa introvers
Pemikir introvers
Intuitif introvers
Pendirian introvers
Introvers
Pikiran
Perasaan
Pendirian
Intuisi
Pemikir-introvers
Perasa-introvers
Pendirian-introvers
Intuitif-introvers
Perasa ekstravers
Pemikir ekstravers
Intuitf ekstravers
Pendirian ekstravers
Sumber : Syamsu Yusuf Teori Kepribadian 2011

2.    Dimensi Ketidaksadaran Kepribadian
Dimensi ketidaksadaran kepribadian seseorang mempunyai dua lingkaran yaitu: (1) ketidaksadaran pribadi; (2) ketidaksadaran kolektif. Ketidaksadaran pribadi berisi hal yang diperoleh individu selama hidupnya namun tertekan dan terlupakan. Ketidaksadaran kolektif berisi hal yang diperoleh seluruh jenis manusia selama pertumbuhan jiwanya melalui generasi yang terdahulu.
  1. Teori kepribadian menurut Erik Erikson
Erikson adalah seorang Freudian dan penulis utama psikologi ego. Artinya Erikson pada dasarnya menerima gagasan Freud termasuk gagasan yang belum pasti seperti oedipal complex, dan juga menerima gagasan tentang ego yang didukung oleh para pendukung setia Freudian seperti Heinz Hartmann dan tentu saja Anna Freud. Erikson memandang identitas ego sebagai polaritas dari apa seseorang itu menurut perasaan dirinya sendiri. Erikson memandang ego sebagai kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri secara kreatif dan otonom. Teori ego dari Erikson yang dapat dipandang sebagai pengembangan seksual-infatil dari Freud, mendapat pengakuan yang luas sebagai teori yang khas, berkat pandangannya bahwa pengembangan kepribadian mengikuti prinsip epigenetic. Sama seperti Freud, Erikson menganggap hubungan ibu-anak menjadi bagian penting dari perkembangan kepribadian. Tetapi Erikson tidak membatasi teori hubungan id-ego dalam bentuk usaha memuaskan kebutuhan id oleh ego.

3.         Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepribadian
Menurut Syamsu & Juntika dalam bukunya Teori Kepribadian, 2011 mengatakan bahwa perkembangan kepribadian individu dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya faktor hereditas dan lingkungan. Faktor hereditas yang mempengaruhi kepribadian antara lain: bentuk tubuh, cairan tubuh, dan sifat-sifat yang diturunkan dari orang tua. Adapun faktor lingkungan antar lain : lingkungan rumah, sekolah dan masyarakat. Di samping itu, meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan, kenyataannya sering ditemukan perubahan kepribadian. Perubahan itu sering dipengaruhi oleh faktor gangguan fisik dan lingkungan.

1.    Faktor Genetika (Pembawaan)
Pada masa konsepsi, seluruh bawaan hereditas individu dibentuk dari 23 kromosom (pasangan x x) dari ibu, dan 23 kromosom (pasangan x y) dari ayah. Dalam 46 kromosom tersebut terdapat beribu-ribu gen yang mengandung sifat-sifat fisik dan psikis/mental individu atau yang menentukan potensi-potensi hereditasnya. Dalam hal ini, tidak ada seorang pun yang mampu menambah atau mengurangi potensi hereditas tersebut.
Masa dalam kandungan dipandang sebagai alat (periode) yang kritis dalam perkembangan kepribadian, sebab tidak hanya sebagai saat pembentukan pola-pola kepribadian, tetapi juga sebagi masa pembentukan kemampuan-kemampuan yang menentukan jenis penyesuaian individu terhadap kehidupan setelah kelahiran. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh hereditas terhadap kepribadian, telah banyak para ahli yang melakukan penelitian dengan mengguanakan metode-metode tertentu. Dalam kaitan ini, Pervin dalam buku Tipe Kepribadian (Syamsu Yusuf, 2011) mengemukakan penelitian-penelitian tersebut.
a.    Penelitian dengan Metode Sejarah (Riwayat) Keluarga
Menurut Galton dalam buku Tipe Kepribadian (Syamsu Yusuf, 2011) telah mencoba meneliti kegeniusan yang di kaitkan dengan sejarah keluarga. Temuan penelitiannya menunjukkan bahwa kegeniusan itu berkaitan erat dengan keluarga. Temuan ini bukti yang mengandung teori hereditas tentang kegeniusan individu. Contoh penelitian dengan pendekatan ini adalah penelitian terhadap keluarga (keturunan) Kallikak. Keturunan Kallikak pertama adalah seorang anak laki-laki, hasil hubungan gelapnya dengan seorang gadis yang bodoh. Anak tersebut memiliki kemampuan intelektual yang rendah (bodoh), dan bersikap anti sosial. Sedangkan keturunan Kallikak yang kedua adalah berasal dari hasil pernikahan dengan seorang wanita yang berkemampuan intelektual normal dan bersifat baik. Anak-anaknya ternyata memiliki kemampuan intelektual yang normal, dan dapat menjadi warga masyarakat yang baik. Pendekatan sejarah keluarga ini dipandang relatif kecil kontribusinya terhadap pemahaman mengenai pengaruh hereditas terhadap tipe kepribadian.
b.    Metode Seldktivitas Keturunan
Menurut Tryon dalam buku Tipe Kepribadian (Syamsu Yusuf, 2011) menggunakan pendekatan ini dengan memilih tikus-tikus yang pintar, cerdas “bright”, dengan yang bodoh “dull”. Ketika tikus-tikus dari kedua kelompok tersebut dikawinkan ternyata keturunannya mempunyai tingkat kecerdasan yang berdistribusi normal.
c.    Penelitian terhadap Anak Kembar
Study terhadap anak kembar ini dipandang oleh para ahli psikologi sebagai metode yang paling baik dalam membuktikan pengaruh faktor genetika terhadap kepribadian.
d.    Keragaman Konstitusi (Postur) Tubuh
Penelitian terhadap konstitusi tubuh ini didasarkan kepada asumsi bahwa karakteristik fisik berhubungan dengan kepribadian. Kretschmer mengklasifikasikan postur tubuh individu pada tiga tipe utama, dan satu tipe campuran. Berikut ini adalah tipe pengklasifikasian tubuh menurut Kretschmer:
1)    Tipe Piknis (Stenis): pendek, gemuk, perut besar, dada dan bahunya bulat
2)    Tipe Asthenis (Leptosom): tinggi dan ramping, perut kecil, dan bahu sempit
3)    Tipe Atletis: postur tubuhnya harmonis (tegap, bahu lebar, perut kuat, otot kuat).
4)    Tipe Displastis: tipe penyimpangan dari ketiga bentuk diatas.           

2.  Faktor lingkungan (Environment)
Faktor lingkungan yang mempengaruhi kepribadian diantaranya keluarga, kebudayaan, dan sekolah.
a.    Keluarga
Keluarga dipandang sebagai penentu utama pembentukan kepribadian anak. Alasannya adalah keluarga merupakan kelompok sosial pertama yang menjadi pusat identifikasi anak, anak banyak menghabiskan waktunya di lingkungan keluarga, dan para anggota keluarga merupakan “significant people” bagi pembentukan kepribadian anak.
b.    Faktor kebudayaan
Kluckhohn berpendapat bahwa kebudayaan meregulasi (mengatur) kehidupan kita dari mulai lahir sampai mati, baik disadari maupun tidak disadari. Kebudayaan mempengaruhi kita untuk mengikuti pola-pola tertentu yang telah dibuat orang lain untuk kita. Sehubungan dengan pentingnya kebudayaan  sebagai faktor penentu kepribadian, muncul pertanyaan: bagaimana karakteristik kepribadian itu berkembang? Bagaimana pula tipe dasar kepribadian masyarakat itu terjadi? Dalam hal ini menurut Linton dalam buku Tipe Kepribadian (Syamsu Yusuf, 2011) mengemukakan tiga prinsip untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tiga prinsip itu adalah (1) pengalaman awal kehidupan dalam keluarga, (2) pola asuh orang tua terhadap anak, dan (3) pengalaman awal kehisupan anak dalam masyarakat. Apabila anak-anak memilki pengalaman awal kehidupan yang sama dalam suatu masyarakat, maka mereka cenderung akan memiliki karakteristik kepribadiaan yang sama.

c.    Sekolah
Faktor-faktor yang dipandang berpengaruh itu diantaranya sebagai berikut:
1)    Iklim emosional kelas
Kelas yang iklim emosinya sehat (guru bersikap ramah, dan respek terhadap siswa dan begitu juga berlaku diantara siswa) memberikan dampak yang positif bagi perkembangan psikis anak, seperti merasa nyaman, bahagia, mau bekerja sama, termotivasi untuk belajar, dan mau mentaati peraturan. Begitu juga iklim emosional kelas yang sebaliknya akan berdampak kurang baik bagi anak.
2)    Sikap dan perilaku guru
Sikap dan perilaku guru, secara langsung mempengaruhi “self-concept” siswa, melalui sikap-sikapnya terhadap tugas akademik (kesungguhan dalam mengajar), kedisiplinan dalam menaati peraturan sekolah, dan perhatiannya terhadap siswa. Secara tidak langsung, pengaruh guru ini terkait dengan upayanya membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan penyesuaian sosialnya.
3)    Disiplin (tata tertib)
Tata tertib ini ditunjukkan untuk membentuk sikap dan tingkah laku siswa.
4)    Prestasi belajar
Perolehan prestasi belajar, atau peringkat kelas dapat mempengaruhi peningkatan harga diri, dan sikap percaya diri siswa
5)    Penerimaan teman sebaya
Siswa yang diterima oleh teman-temannya, dia akan mengembangkan sikap positif terhadap dirinya, dan juaga orang lain. Dia merasa menjadi orang yang berharga.

4.         Jenis Tipe Kepribadian
Pembagian kepribadian manusia ke dalam dua jenis ini pertama kali dilakukan oleh Gustav Jung dalam buku Tipe Kepribadian (Syamsu Yusuf, 2011). Jung (baca: yung) adalah seorang psikolog asal Swiss yang pada awalnya kagum dengan teori psikoanalisis dari Sigmund Freud, namun belakangan ia membuat teori baru yang bertentangan dengan teori dari Freud (baca: froyd). Jung menyebutkan bahwa manusia memiliki dua sikap (attitudes) dasar, yaitu ekstrovert dan introvert.
a.    Introvert
Sikap introvert mengarahkan pribadi ke pengalaman subjektif, memusatkan diri pada dunia dalam, cenderung menyendiri, pendiam atau tidak ramah, bahkan antisosial. Seseorang juga mengamati dunia luar, tetapi mereka melakukannya secara selektif dan menggunakan pandangan subjektif mereka sendiri. Orang-orang yang introvert ditandai oleh kecenderungan mudah tersinggung, perasaan gampang terluka, mudah gugup, rendah diri, mudah melamun, sukar tidur. Intelegensia relatif tinggi, perbendaharaan kata-kata baik, cenderung tetap pada pendirian (keras kepala), umumnya teliti tapi lambat, mereka agak kaku, dan kurang suka lelucon terlebih mengenai seks.
Ciri-ciri orang dengan tipe introvert adalah sulit bergaul, hatinya tertutup, sulit berhubungan dengan orang lain dan penyesuaian diri dengan lingkungan sekitar kurang baik. Hal ini akan menyebabkan seseorang sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan rumah sakit, dimana orang dihadapkan pada berbagai macam tindakan keperawatan dan orang yang tidak dikenal, seperti dokter, perawat dan pasien lainnya.
b.    Ekstrovert
Sikap ekstrovert mengarahkan pribadi ke pengalaman  objektif, memusatkan perhatiannya ke dunia luar, cenderung berinteraksi dengan orang disekitarnya, aktif dan ramah. Ciri-ciri tipe ekstrovert adalah mudah bergaul, suka pesta, mempunyai banyak teman, membutuhkan teman untuk bicara, dan tidak suka membaca atau belajar sendirian, sangat membutuhkan kegembiraan, mengambil tantangan, sering menentang bahaya, berperilaku tanpa berpikir terlebih dahulu, dan biasanya suka menurutkan kata hatinya, gemar akan gurau-gurauan, selalu siap menjawab, dan biasanya suka akan perubahan, riang, tidak banyak pertimbangan (easy going), optimis, serta suka tertawa dan gembira, lebih suka untuk tetap bergerak dalam melakukan aktivitas, cenderung menjadi agresif dan cepat hilang kemarahannya, semua perasaannya tidak disimpan dibawah kontrol, dan tidak selalu dapat dipercaya (Aiken, 1993 : 86 – 87). Selain itu orang-orang yang ekstrovert intelegensia mereka relatif rendah, pebendaharaan kata-kata kurang, mempunyai kecenderungan tidak tetap pada pendirian, umumnya mereka cepat namun tidak teliti, mereka tidak begitu kaku, dan mereka menyukai lelucon terlebih mengenai seks. (Suryabrata, 2002).

5.         Cara Penilaian Tipe Kepribadian
Pada pertanyaan tipe kepribadian pasien pre operasi Sectio Caesarea, dimana peneliti membuat pernyataan sebanyak 10 pernyataan pilihan yang meliputi pernyataan tentang tipe kepribadian yang berupa pernyataan dengan menjawab ya nilai (1), menjawab tidak nilai (0). Tipe A (introvert) bila skor  6 – 10 Tipe B (ekstrovert) bila skor 0 - 5
Penilaian ini diambil dari contoh jurnal yang sudah diuji kebenarannya melalui uji validitas.

DAFTAR PUSTAKA

Ayub Sani Ibrahim (2003), Panik Neurosis dan Gangguan Cemas, Jakarta : PT. Dua  As – As
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi 2010 . Jakarta: PT Rineka Cipta
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi VI. Jakarta: PT Rineka Cipta
Anggraini,(2011).Laporan Pendahuluan pada Post SC.http://anggreniniluhputu.blogspot.com diakses tanggal 19 Januari 2012 Jam 20.18
Barbara C. Long (1996), Perawatan Medikal Bedah I, Bandung : Yayasan IKAPI
Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC.
Gunawan,(2011).Konsep Kecemasan.http://teorikecemasan.blogspot.com/ diakses tanggal 27 desember 2011 Jam 16.00 WIB
Hidayat, A. Aziz Alimul. (2007).  Metode Penelitian Kebidanan Dan Teknik Analisis Data. Jakarta : Salemba Medika
Hidayat, A. Aziz Alimul. (2007).  Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan Ilmiah. Jakarta : Salemba Medika
Hawari, Dadang. 2008. Manajemen Stres, Cemas, dan Depresi. Penerbit FK Universitas Indonesia.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta
Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika
Nursalam. 2011. Manajemen Keperawatan Edisi 3. Jakarta : Slemba Medika
Perry, Poter, 2006. Buku Saku Ketrampilan Dan Prosedur Dasar.Jakarta:Rineka Cipta
Rondhianto,(2008).KeperawatanPerioperatif.http://athearobiansyah.blogspot.comdiakses tanggal 03 Oktober 2011 Jam ‏‎18:20:51
Sarwono, Prawiroharjo,. 2005. Ilmu Kandungan, Cetakan ke-4. Jakarta : PT Gramedi
Stuart, Gail W. 2008. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: Penerbit EGC.
Suparyanto, 2011. Konsep Cemas. http://dr-suparyanto.blogspot.com/2011/03/ konsep-cemas.html (Diakses  17 Februaari 2012).
Syamsu Yusuf & Juntika Nurihsan. 2011. Teori Kepribadian. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Tahsinul,(2008).Kepribadian.http://tahsinul.wordpress.com  diakses tanggal 28 Oktober 2011 Jam ‏‎10:12:50